Dua Sisi Mata Pedang
Tags: Agama, Hadits
Dalam melaksanakan agama Islam, ada 2 (dua) hal yang harus dilaksanakan oleh setiap umat, yaitu :
1. Hablumminallah (Aqidah) dan
2. Hamblumminannas (Akhlaq)
itulah dua sisi mata pedang itu yang harus selalu diasah, tidak hanya Hamblumminallah saja… karena Hamblumminannas adalah wajah Islam di dunia ini. Tapi yang sering muncul adalah adanya perasaan bahwa dirinya sudah mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT (Hablumminallah ) maka Hablumminannas-nya diabaikan,.
“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. (Al Mu’min ayat 65)
Padahal antara akhlak dengan ‘aqidah terdapat hubungan yang sangat kuat sekali. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang Muslim berarti semakin kuat imannya. Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah SAW dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab seseorang untuk dapat masuk Surga.
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (YUNUS ayat 26)
Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). (AN NAJM ayat 31)
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (AL BAQARAH ayat 25)
Jadi siapa yang menjadi suri tauladan kita? Ya tentu saja Rasulullah SAW.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [HR. Bukhari & Ahmad]
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” [HR. At Tirmidzi]
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya…” [HR. At Tirmidzi]
“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Neraka, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Lidah dan kemaluan.”[HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad]
Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW
“Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.” [HR. Abu Dawud]
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.” [HR. Bukhari, Muslim]
Begitu pula para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya setelah Rasulullah SAW. Dan di antara akhlak Salafush Shalih Radhiyallahu ‘anhum, yaitu:
- Ikhlas dalam ilmu dan amal serta takut dari riya’.
- Jujur dalam segala hal dan menjauhkan dari sifat dusta.
- Bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat.
- Menjunjung tinggi hak-hak Allah dan Rasul-Nya
- Berusaha meninggalkan segala bentuk kemunafikan
- Lembut hatinya, banyak mengingat mati dan akhirat serta takut terhadap akhir kehidupan yang jelek (su’ul khatimah).
- Banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dan tidak berbicara yang sia-sia.
- Tawadhdhu’ (rendah hati) dan tidak sombong.
- Banyak bertaubat, beristighfar (mohon ampun) kepada Allah, baik siang maupun malam.
- Bersungguh-sungguh dalam bertaqwa dan tidak mengaku-ngaku sebagai orang yang bertaqwa, serta senantiasa takut kepada Allah.
- Sibuk dengan aib diri sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain serta selalu menutupi aib orang lain.
- Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka ghibah (tidak menggunjing sesama Muslim).
- Pemalu.
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.” [HR. Ibnu Majah]
“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata.” [HR. Bukhari dan Muslim]
14. Banyak memaafkan dan sabar kepada orang yang menyakitinya.
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” [Al-A'raaf: 199]
15. Banyak bershadaqah, dermawan, menolong orang-orang yang susah, tidak bakhil/tidak pelit.
16. Mendamaikan orang yang mempunyai sengketa.
17. Tidak hasad (dengki, iri), tidak berburuk sangka sesama Mukmin.
18. Berani dalam mengatakan kebenaran dan menyukainya.
Itulah di antara akhlak Salafush Shalih, mereka adalah orang-orang yang mempunyai akhlak yang tinggi dan mulia serta dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang yang harus mempunyai akhlak yang mulia karena akhlak mempunyai hubungan yang erat dengan ‘aqidah dan manhaj. Semoga kita diberikan taufiq oleh Allah Azza wa jalla dan diberikan kekuatan untuk dapat meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum.
Dan tidak boleh seseorang mengatakan: “Salaf itu tidak berakhlak.” Kalimat ini merupakan celaan terhadap generasi yang terbaik dari ummat ini. Adapun kesalahan dari akhlak tiap individu, maka tidak ada seorang manusia pun yang ma’shum kecuali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Reverensi: - ASB @ 20.06.2007;06.15 wib - YM.Abu 08 Juli 2007 kepada FIFAS & Ansor : Berbuat baiklah! - Kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas





No Comments, Comment or Ping
Reply to “Dua Sisi Mata Pedang”